please disable adblock and active javasript to acess this page...
Anda akan dialihkan ke halaman belanja pasardesaku.com dalam 60 detik, jika anda tidak dialihkan otomatis atau anda ingin langsung menuju halaman belanja untuk mulai belanja sekarang silahkan klik DISINI
BLANTERWISDOM101

Jumlah sampah meningkat akibat pandemi, bagaimana solusinya?

Rabu, 22 Juli 2020


Pandemi covid 19 memaksa kita untuk dirunah saja dan memperbanyak dirumah. Dikutip dari kompas.com,

https://www.kompas.com/sains/read/2020/05/29/070300023/sampah-plastik-saat-psbb-dan-wfh-meningkat-ini-6-hal-yang-bisa-kita?page=all

Di tengah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan kerja dari rumah (work from home/WFH), tak sedikit warga yang lebih memilih untuk belanja online dibandingkan datang ke supermarket atau pasar tradisional.


Pemerintah memang mengimbau masyarakat untuk tinggal di rumah dan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Namun, belanja online dan layanan antar jemput (delivery) makanan rupanya menyumbang sampah plastik yang tidak sedikit.

Bahkan di kawasan Jabodetabek, jumlah sampah plastik dari bungkus paket mengungguli jumlah sampah plastik dari kemasan. Studi tersebut dilakukan oleh oleh Pusat Penelitian Oseanografi dan Pusat Penelitian Kependudukan LIPI dengan judul ‘Dampak PSBB dan WFH Terhadap Sampah Plastik di Kawasan Jabodetabek’. Penelitian dilakukan melalui survei online pada 20 April – 5 Mei 2020.


Hasil survei menunjukkan bahwa terdapat peningkatan warga Jabodetabek dalam melakukan belanja online. Dari yang sebelumnya hanya 1-5 kali dalam sebulan, selama PSBB dan WFH menjadi 1-10 kali dalam sebulan.


“Survei ini kami lakukan secara nasional, terutama di enam provinsi dengan kasus Covid-19 dan penggunaan layanan pengantaran yang relatif tinggi seperti di Jawa, Bali, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Barat,” tutur Intan Suci Nurhati Ph.D dari oleh Pusat Penelitian Oseanografi dan Pusat Penelitian Kependudukan LIPI kepada Kompas.com, Kamis (28/5/2020).


Dari berita yang dikutip dari kompas.com diatas ditemukan fakta peningkatan jumlah sampah plastik ketika masa pandemi. Jika Kita menilik dan mengambil contoh di TPST piyungan. Tentunya fakta tersebut menjadi beban berat bagi TPST Piyungan. TPST piyungan sekarang dalam keadaan overload bahkan bisa sewaktu waktu ditutup operasi sementara. Lalu kemanakah sampah itu akan dibuang, jika TPST piyungan berhenti beroperasi. Sampah rumah tangga anda tidak akan dapat diangkut oleh jasa sampah meski anda membayar lebih. Masyarakat kita terlalu bergantung dengan TPST piyungan untuk mengatasi sampah anda. Mungkin bagi warga yang masih memiliki tanah luas pasti berkata, ahh tidak masalah buang saja dipekarangan. Sampah plastik sulit terurai, maka tanah yang anda wariskan ke anak cucu anda adalah tanah yang didalamnya penuh sampah. Anak cucu anda tidak akan merasakan enaknya buah buahan hasil pekarangan anda karena tanah anda sudah tidak subur karena sampah yang anda buang masih tidak terurai. Apakah itu yang anda inginkan. Lihat artikel saya sebelumnya berjudul kemana lagi kamu akan buang sampahmu.

Lalu bagaimana solusinya.? Masih belum tahu. Saya ulangi pertanyaanya?

Lalu bagaimana solusinya.?

SEKO LEMAH BALI LEMAH, SEKO PABRIK BALI PABRIK

Akan saya jabarkan satu persatu.


SEKO LEMAH BALI LEMAH
(JOGANGAN)

Pada Jaman penjajah, para pejuang berjuang mengusir penjajah hanya menggunakan teknologi senjata yang sangat sederhana namun efektif yaitu sebatang bambu yang diruncingkan. Artinya dalam mengatasi permasalah sampah dapat secara tradisional, tidak perlu teknologi mahal. Teknologi canggih nan tradisional untuk pengelolaan sampah ini bernama jogangan. Teknologi Jogangan ini mengedepankan peran masyarakat atau yang kita sebut sebagai "pengelolaan sampah mandiri".


Pengelolaan sampah Mandiri menjadi solusi nyata, murah dan berkelanjutan dalam menangani sampah. Kunci keberhasilan pengelolaan sampah mandiri adalah masyarakat, maka pemerintah desa Caturharjo, BUMdesa Catur Mandiri, pak dukuh dan pak RT serta semua pihak bersama-sama untuk turut peduli terhadap permasalahan sampah yang kelak akan datang di kemudian hari. Kemudian dilakukan FGD dengan seluruh pemangku kepentingan di desa dengan didampingi aktivis persampahan dari resikplus tercetuslah GERAKAN 4000 JOGANGAN.


Jogangan, sebuah langkah yang mudah, teknologi murah dan sudah teruji sejak jaman simbah-simbah dulu untuk digunakan mengolah semua jenis sampah organik, “seko lemah bali nang lemah” (dari tanah kembali ke tanah). Sedangkan "seko pabrik bali pabrik" (dari pabrik bali pabrik) yaitu jenis sampah kemasan laku jual akan dikumpulkan menjadi tabungan di Rumah Kumpul Sampah di tiap RT, dan jenis Residu akan dibuang ke TPA pemerintah. Dimana dalam pengelolaan lanjutannya ini menjadi tugasnya unit usaha pengelolaan sampah BUMDesa Catur Mandiri yaitu GRM (Gasik Resik Mandiri). Dengan adanya gerakan 4000 jugangan dan diharapkan paling tidak 85% sampah rumah tangga dapat teratasi sehingga beban anggaran pemerintah dalam pengelolaan sampah menjadi lebih ringan.


SEKO PABRIK BALI PABRIK
(RUMAH KUMPUL SAMPAH)

Pemerintah Desa Caturharjo, bantul mencanangkan gerakan lanjutan 4000 jogangan. Gerakan lanjutan itu adalah gerakan 77 Rumah Kumpul Sampah atau RKS. RKS (Rumah Kumpul Sampah) hanya untuk sampah non organik Rumah kumpul sampah digunakan untuk mengumpulkan semua jenis sampah yang tidak dapat terurai oleh secara alami. Dalam pengelolaan sampah di RKS, sampah
non organik di kategorikan menjadi 2 jenis yaitu laku jual dan tidak laku jual (residu). RKS akan berada di 77 RT di desa Caturharjo. Setiap RKS dikelola oleh 1 orang koordinator.

RKS dan Bank Sampah serupa tapi tak sama. istilah RKS mengadopsi sistem bank sampah yang lebih disederhanakan sehingga mudah diterapkan dimasyarakat pada umumnya.


Keunggulan : RKS tidak menuntut pengelolanya untuk memilah hingga puluhan jenis sampah. RKS hanya memilah menjadi 3 kategori saja, busuk masuk jogangan, laku jual dan tidak laku jual masuk rks. RKS tidak menuntut pengelola nya untuk administrasi rumit, cukup siapa pelangganya dan tabungannya tiap bulan yang sudah diitungkan oleh bank sampah induk. RKS mengajarkan kekeluargaan karena tabungan dari penjualan RKS adalah tabungan tiap RT artinya sistem tanggung renteng. Berbeda dengan Bank sampah yang lebih bersifat individual.


Share This :

0 komentar